Masyarakat Jawa pada masa kini dikenal sebagai Masyarakat Agraris dengan rasa keterikatan sangat kuat pada tanah pertanian. Simbol - simbol utama mewakili kesuburan tanah, kemakmuran berbasis kecukupan pangan dan sandang. Adagium dan frasa metaforis agraris banyak beredar dalam tata kehidupan masyarakat Jawa. "Air beriak tanda tak dalam" sangat populer sebagai ekspresi orang yg banyak tingkah, biasanya ilmunya dangkal, "bagaikan padi, semakin berisi semakin menunduk" untuk menggambarkan, orang yg semakin berilmu, semakin rendah hati
Fakta geografis, pulau Jawa adalah satu pulau bagian dari gugusan kepulauan yg dikenal dengan sebutan Nusantara. Sangat Jamak bahwa masyarakat kepulauan sangat akrab dengan lautan. Bahwa pada masa kini, masyarakat Jawa bisa disebut kurang akrab dengan lautan, tampak sebagai anomali.
Beberapa kelompok pemerhati sejarah dan budaya Jawa, bertanya-tanya tentang situasi ini, masyarakat kepulauan menjadi lebih agraris kontinental, di lain sisi, cerita kesejarahan tentang kerajaan Maritim Jawa sangat akrab hadir dan menjadi memori kolektif sebagian masyarakat Jawa. Relief candi Borobudur, sebagai candi termegah di Pulau Jawa, dipercaya sebagai salah satu pustaka yang merekam kehidupan masyarakat Jawa dari waktu ke waktu, memahat dengan jelas satu bentuk Kapal Bercadik, hal ini menjadi salah satu acuan, bahwa masyarakat Jawa mengenal kehidupan Maritim.
Tafsir terhadap sepotong ilustrasi pada Atlas Miller yang menggambarkan eksistensi Kapal Layar dengan Enam Tiang yang disebut Djong (Jung) dan diyakini sebagai Kapal Jawa membuat kegaduhan pada beberapa kalangan pemerhati sejarah Jawa. Atlas yg dibuat pada kisaran tahun 1519 M, diyakini sebagai Atlas Terlengkap dan Terbaik dalam menggambarkan permukaan bumi pada masa tersebut.
Pada masa tersebut, dunia mengenal kapal berukuran paling besar adalan jenis Galleon (Galiung) buatan Negeri Spanyol.
Comments
Post a Comment